WHO Hentikan Uji Coba Hydroxychloroquine, Karena Ini…

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menahan uji coba obat malaria hydroxychloroquine (HCQ) dan kombinasi obat HIV lopinavir/ritonavir pada pasien Covid-19 dengan dirawat di rumah sakit karena ternyata tidak bisa mengurangi nilai kematian.

Dilansir CNA , langkah tersebut juga diikuti pembuat obat Swiss Novartis. Sedangkan pembuat obat Perancis Sanofi akan segera membuat keputusan dalam waktu dekat.

“Hasil uji coba sementara tersebut menunjukkan bahwa hidroksi klorokuin dan lopinavir/ritonavir menghasilkan sedikit atau tidak ada pengurangan dalam kematian penderita Covid-19 yang dirawat di sendi sakit jika dibandingkan dengan penopang perawatan. Para peneliti uji simpati akan menghentikan uji coba dengan efek langsung, ” kata WHO dalam sebuah pernyataannya yang menunjuk pada uji coba multi-negara gembung yang memimpin agensi.

Badan PBB itu mengatakan, keputusannya diambil atas rekomendasi Komite Pembimbing Internasional uji coba, dan tak mempengaruhi studi lain di mana obat tersebut digunakan untuk anak obat yang tidak dirawat di rumah sakit atau sebagai profilaksis.

Percobaan Novartis dimulai semenjak bulan April yang menguji obat hydroxychloroquine pada 440 pasien dengan dirawat di rumah sakit. Tetapi proyek itu hanya menghasilkan efek pada segelintir orang saja.

Hydroxychloroquine juga digunakan untuk memulihkan gangguan peradangan termasuk rheumatoid arthritis dan lupus, dan menjadi bakal debat politik ketika Presiden GANDAR Donald Trump mempromosikannya, meskipun waktu tersebut belum ada bukti ilmiah mampu membantu melawan virus corona anyar.

Penelitian terhadap obat malaria yang sudah berlangsung kira-kira dekade. Termasuk di Inggris yang baru-baru ini juga dihentikan sesudah para ilmuwan menyimpulkan itu “tidak berguna” terhadap Covid-19.

Perusahaan yang berbasis di Basel itu mengatakan penelitiannya, sejauh ini, tidak mengangkat masalah keamanan serta tidak menarik kesimpulan tentang kemanjuran HCQ.

Percobaan Novartis bertepatan dengan meningkatnya penggunaan obat remdesivir Gilead Science, yang menunjukkan pemulihan dari Covid-19 dalam uji cobanya.

Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) memperingatkan untuk tidak menggabungkan remdesivir dengan HCQ.

Novartis telah menyumbangkan 130 juta dosis hydroxychloroquine di Amerika Serikat, dan Kepala Eksekutif, Vas Narasimhan dua bulan lalu sempat mengelompokkannya sebagai harapan terbesar perusahaan terhadap virus corona baru ini. (*)