Vaksinasi Covid-19, Pembukaan Sekolah serta Kesiapan Kita

TIMESINDONESIA, NTT – Ditemukannya vaksin Covid-19, bagai secercah terang di lorong gelap pandemi Corona. Karena setahun bertambah diserang Covid-19, nyaris tak ada sektor kehidupan dengan luput dari dampak destruktifnya. Pemerintah pun bergerak segera melakukan vaksinasi. Indonesia termasuk negara yang paling cepat melakukan vaksinansi.

Walau publik masih pegari keraguan tentang keampuhan vaksin dan dampak yang muncul akibat minimnya sosiaslisasi serta kesimpangsiuran informasi tentang vaksin, pemerintah tetap bertekat mengabulkan vaksinasi. Vaksinasi adalah salah satu jalan untuk memulihkan cepat mungkin kondisi yang porak poranda akibat serangan Covid-19.

Proses vaksinasi masal dan gratis sudah dilakukan. Untuk menepis syak wasangka publik, Presiden Jokowi tampil sebagai orang pertama dengan divaksin, Rabu, 13 Januari 2021 di Istana Lepas, Jakarta. Bersamanya ikut kira-kira public figure dari berbagai kalangan demi meyakinkan masyarakat. Ini menjadi titik asal pelaksanaan vaksinasi nasional di dalam upaya penangan pandemic Covid-19.

Guru merupakan salah satu kelompok preferensi yang menjadi target untuk divaksin. Vaksinasi untuk gerombolan guru telah dimulai, Rabu, 24 February 2021. Pemerintah menargetkan semua guru serta tenaga kependidikan selesai divaksin bulan Juni 2021. Masa target ini dicapai, pembukaan sekolah pada awal tahun pelajaran di bulan Juli dapat dilakukan.

Mengambil Sekolah

Keinginan membuka kembali madrasah dapat dimaklumi. Sejak kesibukan pembelajaran konvensional mulai sebab TK/ PAUD hingga madrasah tinggi dihentikan dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh, dampak negatif yang timbul dari aktivitas belajar sebab rumah ini begitu besar.

Menurut dugaan Bank Dunia dan UNESCO (Kompas. id, 02/03/2021) buah pandemi Covid-19 pada pelajaran adalah menurunnya rata-rata lama sekolah dari 7, 9 tahun menjadi 7, 6-7, 0 tahun. Angka putus sekolah meningkat, sebanyak 24 juta siswa dari pelajaran pra sekolah (PAUD) maka perguruan tinggi putus madrasah akibat pandemi. Di mana pendidikan tinggi akan mengalami tingkat putus sekolah tertinggi dan proyeksi penurunan pendaftran sebesar 3, 5% ataupun total 7, 9 juta siswa; pendidikan anak piawai dinia (PAUD) akan menjalani penurunan partisipasi sebesar 2, 8% atau total berkurang 5 juta anak; sebanyak 0, 27 persen siswa sekolah dasar dan 1, 48 persen siswa sekolah menengah beresiko putus sekolah.

Dampak lain adalah menurunkan capaian hasil ujian/pendidikan sekitar 25%. Meningkatnya kemiskinan belajar (learning poverty). Sebelum pandemi 53% anak di negara berpenghasilan rendah dan menengah menderita kemiskinan bersekolah atau tidak dapat membaca dan memahami teks biasa di usia 10 tarikh. Hilangnya investasi pemerintah untuk pendidikan dasar sebesar 16% atau setara 10 triliun dolar AS jika sekolah ditutup selama lima bulan. Memperlebar kesenjangan pendidikan jarang siswa dari kelompok ekonomi atas dengan siswa dari kelompok ekonomi bawah.

Efek destruktif pandemi Covid-19 terhadap pendidikan di atas membulatkan tekat negeri membuka kembali sekolah cepat setelah vaksinasi terhadap guru dilakukan. Bulan Juli sebagai awal tahun pelajaran diharapkan seluruh sekolah boleh bertatap muka kembali.

Mendikbud dalam rapat penyerasian dengan Komisi X DPR mengungkapkan alasan pembukaan madrasah setelah vaksinasi guru serta tenaga kependidikan rampung. Menurutnya Indonesia sangat tertinggal di kebijakan pembukaan sekolah sejak negara lain yang pula terdampak Covid-19. Selain tersebut dari sisi kesehatan dirasa aman semua guru divaksin. Karena risiko tinggi Covid-19 umumnya pada kelompok leler 31-51 tahun. Sementara di anak-anak yang terinfeksi kebanyakan bergejala ringan (cnnindonesia. com, 18/03/2021).

Walau pemerintah optimistis pembukaan sekolah akan aman, di kalangan guru belum satu pandangan. Masih ada pro & kontra. Guru yang setuju dengan pertimbangan pembelajaran jarak jauh sangat menguras energy dan biaya. Terutama bagi sekolah yang berada pada daerah 3T yang tak bisa menjalankan pembelajaran online karena keterbatasan sarana pembantu. Pembelajaran jarak jauh dijalankan dengan melakukan home visit.

Guru kudu mengunjungi siswa dari panti ke rumah. Ini kemaluan waktu, biaya dan gaya yang tidak sedikit. Jadi guru yang mengajar dalam daerah 3T dan selama pandemi Covid-19 melaksanakan PJJ secara luring, saya sungguh mengalami dan merasakan beratnya perjuangan guru di penjuru negeri dikala pandemi Corona ini.

Kiai yang menolak meminta negeri agar tidak terburu-buru menggelar kembali sekolah di kausa tahun pelajaran baru. Survei Wahana Visi Indonesia, Kemdikbud dan Predikt menunjukkan bahwa pengasuh khawatir bila sekolah dibuka kembali peserta didik tertular Covid-19, diri sendiri tertular korona, tidak dapat melayani pembelajaran dengan nyaman, tidak bisa menjalankan pembelajaran tatap muka dengan nyaman serta efektif, orangtua atau penghuni rumah lainnya tertular Covid-19 (Kompas. id, 08/03/2021).

Kekhawatiran guru ini beralasan karena vaksinasi hanya dilakukan terhadap pendidikan serta tenaga kependidikan. Sementara anak yang secara kuantitas jauh lebih banyak dari pengasuh belum divaksin. Ini bermanfaat kekebalan kelompok (herd immunity) Covid-19 di sekolah belum terbentuk. Karena itu resiko penularan di sekolah mampu terjadi.

Kesiapan Kita

Membuka sekolah bermanfaat sekolah harus dibuka secara aman dan efektif. Karena itu bukan soal cepat atau lambat, tetapi urusan kesiapan. Sekolah harus dipastikan benar-benar siap, baik dengan infrastruktur maupun protokol kesehatan.

Surat Kesimpulan Bersama (SKB) empat gajah tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran tahun 2020/ 2021 dan tarikh akademik 2020/ 2021 di masa pandemi Covid-19 sudah memberi acuan teknis dengan jalan apa pembelajaran tatap muka pada sekolah harus dijalankan pada masa pandemi korona. Penyediaan infrastruktur dan kepatuhan mematuhi protokol kesehatan menjadi sarana penting.

Namun hingga kini masih penuh sekolah belum memenuhi persyaratan dimaksud. Data Kemdikbud tentang kesiapan belajar menunjukkan kalau baru 280. 372 ataupun 52, 44 persen madrasah yang mengisi daftar kesiapan proses belajar mengajar dalam masa pandemi, itu biar baru sekitar 10 persen yang siap (Kompas. id, 19/03/2021).

Tersebut baru masalah teknis, belum bicara implementasi. Pengalaman empiris sebagai guru memunculkan keraguan akan hal ini. Pada beberapa kesempatan melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan sistem shif, setiap hari selalu ada anak yang kudu dipulangkan karena datang ke sekolah tanpa memakai kedok. Di kalangan guru pula masih ada yang belum taat menjalankan aturan kesehatan tubuh.

Ini urusan kepatuhan. Kita belum sadar menjalankan protokol kesehatan secara baik. Kesadaran untuk beradaptasi dengan kenormalan baru belum tumbuh dalam diri. Preskripsi menerapkan 3M dirasa sebagai suatu paksaan. Karena itu pembukaan sekolah masih rawan menimbulkan kluster pendidikan masa hanya mengandalkan vaksinasi pengasuh dan mengabaikan infrastruktur & penerapan protokol kesehatan.

Persoalan lain merupakan ketersediaan air. Bulan Juli nanti Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Sebagaimana membiasakan ketersediaan air berkurang pada musim tersebut. Kekurangan ataupun ketiadaan air akan menyulitkan dalam mencuci tangan. Jadi salah satu cara melindungi diri dari virus korona, menurut petunjuk Kemenkes pada mencuci tangan dibutuhkan air bersih dan mengalir.

Situasi pendidikan zaman ini memang dilematis. Tamsil memakan buah simalakama, pada setiap pilihan mengandung risiko. Menggelar sekolah berarti menerima resiko tertular Corona, melanjutkan BDR berarti mempenpanjang dampak negative PJJ bagi peserta didik.

Tetapi bila akhirnya sekolah tetap dibuka, kerja sama semua stakeholder pendidikan penting dilakukan. Bagian yang terkait langsung secara pembelajaran di sekolah harus menjalankan tugasnya dengan indah. Orangtua tidak hanya menimbrung menandatangani surat pernyataan menyetujui pelaksanaan pembelajaran tatap membuang sebagai syarat formal-administratif namun harus ikut memantau bani dalam menerapkan aturan kesehatan tubuh.

Begitu pula guru, harus dapat menguatkan siswa menerapkan protokol kesehatan Covid-19: tidak boleh berkerumun, wajib mencuci tangan setelah melakukan aktivitas dan bermasker ketika berada di dunia sekolah. Namun sebelum menyelenggarakan peran mengawasi siswa, cantik guru maupun orangtua kudu memastikan bahwa masing-masing kita telah menjalankan aturan kesehatan dengan baik dan betul. Ini adalah pekerjaan panti yang harus segera dibereskan sebelum pembukaan sekolah sungguh-sungguh dilakukan.

***

*)Oleh: Gerardus Kuma, S. Pd, Gr; Guru SMPN 3 Wulanggitang, Hewa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung tanggungan penulis, tidak menjadi arah tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Jiplakan TIMES atau rubrik paham di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 tanda atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup kecil beserta Foto diri & nomor telepon yang mampu dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak membawakan opini yang dikirim jikalau tidak sesuai dengan peraturan dan filosofi TIMES Indonesia.