Terjamin Datang di Pertarungan Nyata

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Ramadan memang telah sudah. Namun bukan berarti pelajaran Ramadan dan amaliyah semasa Ramadan juga telah sudah. Ramadan yang kita lalui sebulan lalu adalah mulia episode dari perjalanan lama yang akan kita lalui setelah ini

Jika di awal Ramadan kita diminta untuk meluruskan niat seraya terus mengisbatkan semangat dalam menjalani ibadah selama bulan Ramadan. Oleh sebab itu jika telah sampai di penghujung Ramadan seruan sifat itu tetap bergelora beserta perlunya menjaga keistiqomahan akan apa yang telah dikerjakan selama Ramadan. Ciri seseorang yang berhasil puasa Ramadannya adalah keistiqomahannya dalam melaksanakan amal kebaikan selama ramadhan di luar bulan ramadhan. Jika selama sebulan kita telah dilatih dengan mewujudkan berbagai amaliah ibadah maka tentunya untuk mengetahui buatan dari latihan itu mampu dilihat pada hari-hari setelah bulan Ramadan.

Jika sebuah pelatihan yang dilakukan selama 3 keadaan maka dampak perubahan yang akan ditimbulkan dapat berdiam hingga 3 bulan setelahnya dan pada bulan yang ketiga pasca pelatihan oleh sebab itu seseorang akan kembali dalam perilaku semula. Maka dengan jalan apa kiranya dampak yang hendak ditimbulkan jika pelatihan tersebut dilakukan selama sebulan lengkap. Berapa lama dampak dengan akan ditimbulkannya. Oleh karena tersebut puasa Ramadan yang dikerjakan selama sebulan penuh ini harusnya mampu berdampak lebih dari satu tahun semenjak lepas dari madrasah ramadan yang di dalamnya seorang mukmin mengikuti program pelatihannya tersebut dengan penuh kesungguhan, keikhlasan dan harap-harap karut (imaanan wah tisaaban)

Ibarat seseorang yang selama sebulan penuh beruang dalam training center maka pertarungan sebenarnya bukanlah semasa berada di dalam kawasan dan masa training tersebut, melainkan pasca training center tersebut. Pertarungan sebenarnya merupakan saat berada di ring tinju atau lapangan hijau yang sebenarnya. Itulah 11 bulan setelahnya, mulai kamar syawal hingga bulan sya’ban yang akan datang. Dalam pertarungan sebenarnya itulah segala tindakan akan hadir di realitas baik positif maupun negatif walau kecenderungannya kesibukan negatif lebih menguasai realitas. Hal ini karena di luar Ramadan tindakan minus itu seakan hadir tanpa penghalang. Sementara di bulan Ramadan terlalu banyak perintang tindakan negatif tersebut & penghalang terbesarnya adalah puasa Ramadan itu sendiri.

Di realitas pertarungan yang sesungguhnya ini segala bentuk kejelekan akan hadir secara bertambah powerfull tanpa hambatan. Kesombongan, kebohongan, kedurhakaan, kedhaliman, desersi, pertikaian, ketidakpedulian, egoisme, aksi hasud, menuntut balas dan seluruh bentuk keburukan akan muncul kembali dengan sangat longgar. Media sosial yang mungkin selama Ramadan lebih terkendali dalam menyebarkan berita hasud, hoax, ujaran kebencian sebab orang relatif dapat menahan diri sebab dirinya cukup berpuasa. Maka pasca Bulan berkat penghalang itu (puasa) sudah tidak ada lagi. Jadi orang akan merasa luput untuk berbuat dhalim dengan medsosnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Pantaslah Bulan berkat selama sebulan penuh menyerahkan bekal terbaik kepada seorang muslim untuk membiasakan diri dalam kebaikan dan membekukan diri dari keburukan. Bulan berkat telah memberikan bekal untuk mempersiapkan pertarungan yang sesungguhnya. Apa saja yang sudah dilatihkan selama madrasah ramadan? Madrasah Ramadan telah mengajarkan kontrol emosi diri, membekukan diri dari keburukan, melatih kesabaran, melatih kemampuan membentengi lisan untuk tidak mengumbar ucapan yang dusta serta sia-sia termasuk pula mengajarkan tangan untuk tidak barangkali memviralkan setiap berita yang berdampak buruk. Ramadan pula mengajarkan kepedulian, meningkatkan rasa empati dan semangat berbagi pada sesama. Ramadan juga mengajarkan hidup sederhana & tidak berfoya-foya tamak dalam dunia. Ramadan juga mengajarkan kejujuran dalam bersikap & berkata-kata.

Semua pelajaran terbaik dari madrasah Ramadan ini adalah sebagai bekal terbaik untuk menghadapi gempuran syetan (baik dengan berujud jin ataupun manusia) pada sebelas bulan selanjutnya setelah Ramadan. Sehingga jikalau bekas yang ditinggalkan betul kuat (karena kesungguhan ibadah saat Ramadan) maka tetap akan berdampak mampu menjelma tameng atau perisai bagi dirinya dalam menghadapi pertandingan kehidupan yang sesungguhnya. Itulah Nabi mengingatkan bahwa Ash shaumu junnah, puasa itu sebagai perisai.

Oleh karena itu, pertarakan Ramadan haruslah mampu membiarkan jejak terbaik pada muncul seseorang. Karena sejatinya objek itu baru dianggap ada dan pernah ada manakala ada jejak atas segalanya itu. Ibarat seseorang mengucapkan bahwa di hutan itu ada harimaunya manakala tersedia jejak atau bekas pada keberadaan harimau tersebut. Apakah berupa tapak kaki, jejak ceceran darah, semak yang terkoyak, ataupun berupa suara auman. Namun jika semua tersebut tidak ada jejak oleh karena itu cerita bahwa di alas itu ada harimaunya tentu adalah sebuah dongeng belaka,

Jadi, puasa Ramadan yang kita kerjakan selama bulan Ramadan anyar dianggap benar-benar kita kerjakan dengan benar manakala ada jejak atau bekasnya (atsar) dari puasa tersebut dengan terus dikerjakan setelah ramadhan. Baik berupa amal ibadahnya (seperti puasa, qiyamullail, mengaji alquran, berbagi, sedekah dsb), maupun berupa nilai-nilai kasatmata puasa ramadhan sebagaimana yang disebutkan diatas.

Selamat menghadapi pertarungan yang sesungguhnya dengan modal langgar Ramadhan yang lalu serta semoga kita dapat menjalani dan memenangkannya di sebelaa bulan yang akan hadir. Terima kasih Ramadan serta selamat datang Syawal.

*) Oleh: Akhmad Muwafik Saleh S. Sos., M. Si, Pengajar Ilmu Komunikasi UB serta Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar.

*) Tulisan Pemikiran ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjelma bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

___________

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter ataupun sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menatangkan opini yang dikirim asalkan tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Nusantara.

*) Gubahan Opini ini sepenuhnya merupakan tanggungan penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

___________

**) Kopi TIMES atau rubrik paham di TIMES Indonesia terbuka buat umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Tulisan dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menatangkan opini yang dikirim semasa tidak sesuai dengan peraturan dan filosofi TIMES Indonesia.