Pentingnya Kreativitas Penyampaian Materi Saat Pelajaran Daring Berlanjut

TIMESINDONESIA, MALANG – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengeluarkan pernyataan bahwa aktivitas pembelajaran bagi pendidikan agung tetap dimulai bulan Agustus 2020 mendatang. Meski demikian proses membiasakan mengajar teori nantinya wajib dikerjakan secara daring dengan memberikan pengkhususan bagi aktivitas yang memerlukan buat hadir ke kampus seperti penelitian di laboratorium, bimbingan skripsi, tesis, praktikum bengkel dan aktivitas sewarna dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan tubuh secara ketat.

Kebijakan ini diambil karena institusi kampus dinilai memiliki kemampuan lebih elok dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh dibandingkan institusi pendidikan dasar dan menengah.

Kebijakan dengan diumumkan melalui konfrensi pers virtual pada Senin (15/6/20) ini langsung memicu respon dari mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sudah merasa “bosan rebahan” selama hampir 4 bulan terakhir, termasuk saya sendiri. Mahasiswa sangat menantikan momen dimana itu dapat bertemu dengan teman-teman mereka di kelas, namun sayang itu harapan mereka pupus sebab kuliah daring harus diperpanjang lagi.

Hal terpenting yang “agak” dikhawatirkan dari proses kuliah daring: tugas-tugas yang kemungkinan akan mengalir tiada henti. Ya, momok suruhan ini dirasakan oleh hampir menyeluruh mahasiswa di berbagai kampus Nusantara.

Tujuan dari pemberian tugas ini juga sebenarnya cara agar mahasiswa tetap produktif & mendapatkan nilai, namun beberapa mahasiswa juga ada yang mengalami pengganggu pemahaman terhadap teori atau menimba perkuliahan disebabkan tidak adanya penyampaian materi secara dialog seperti yang dilakukan saat pembelajaran tatap membuang.

Porsi yang sebanding antara tugas dan pemberian materi sangat penting dan urgent untuk pelaksanaan kuliah daring di tahun akademik mendatang. Ini merupakan tantangan bagi kampus dan dosen biar mampu menyediakan saran pembelajaran virtual yang lebih baik untuk tarikh akademik mendatang.

Tanpa sampai hambatan terkait pemahaman teori pada mahasiswa terulang kembali di semester depan, akan lebih jalan jika kita dapat meningkatkan kreativitas dalam penyampaian materi secara maya misalnya menggunakan Power Point dengan “mengandung lebih banyak gambar/tampilan visual dibandingkan teks paragraf seperti halaman buku cetak”. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kebosanan bagi mahasiswa dan juga mengikuti trend komunikasi visual yang memang sudah menjadi strategi penyampaian informasi di era digital sekarang.

Tak hanya kampus dan para pembimbing yang perlu meningkatkan kualitas penelaahan, mahasiswa juga harus memiliki daya manajemen waktu dan persiapan teknis yang lebih tertib dan matang. Kendala-kendala yang sangat sepele seperti terlambat bangun tidur, lupa rancangan kelas dan deadline tugas, mengikuti masalah habis kuota sehingga tak bisa bergabung dalam pertemuan bagian atau bahkan presentasi tugas akhir seharusnya dapat diminimalisir dalam pengoperasian perkuliahan tahun akademik mendatang.

Sebagai individu yang telah hampir dewasa, mahasiswa sebaiknya dapat lebih bertanggung jawab terhadap kegiatan dan kebutuhan mereka terutama menyatu kewajiban sebagai pelajar. Percayalah pengikut, jika kita tidak dapat belajar dan bertanggung jawab terhadap perkuliahan secara maksimal dari rumah, dengan jalan apa kita akan siap dengan cermin bekerja Work from Home atau remote working yang kian dekat dengan kenyataan masa depan?

Saya mengerti baik pendidik dan mahasiswa memiliki permasalahan terutama dari segi finansial dalam jalan memenuhi kebutuhan perkuliahan daring. Keinginan akan kuota internet dan set yang cepat dan dapat diandalkan membutuhkan biaya yang tidak kecil setiap bulannya.

Di pihak mahasiswa, beberapa menuntut agar mendapatkan pengurangan beban UKT sebab mereka tidak menggunakan fasilitas bangunan kampus seperti listrik, air dunia mandi, wifi kampus, dan wahana lain. Banyak kampus telah menyampaikan diskon UKT dan/atau pemberian bagian internet gratis bagi mahasiswa mungkin. Hal ini patut diapresiasi & diharapkan fasilitas ini dapat langsung diberikan hingga berakhirnya masa penelaahan secara daring.

Kami berharap dosen sebagai “garda terdepan” tenaga pendidik bagi mahasiswa juga mendapatkan fasilitas atau kemudahan semacam dari kampus agar kegiatan penelaahan dapat berjalan lancar dan dinikmati oleh kedua belah pihak baik dosen maupun mahasiswa.

Semester lalu harus dapat menjadi pembelajaran untuk melaksanakan pembelajaran lebih baik di tahun akademik mendatang. Tidak ada waktu untuk mengeluh, kita tidak punya pilihan & kemampuan prediksi kapan pandemik corona akan berakhir dan kembali ke kehidupan semula.

Tumbuh kita hari ini seperti mengendarai sepeda, tetap mengayuh atau lepas terhempas dan kalah dalam proses adaptasi. Mari tetap semangat bersekolah dengan ikhlas dan maksimal biar saat pandemik ini usai, kita siap menyambut lembaran hidup segar dengan bekal ilmu yang sampai dan siap menjadi bermanfaat untuk manusia di sekeliling kita.

***

*) Oleh: Ayu Rachmawaty, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Sial.

*) Tulisan Opini itu sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik pandangan di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup kecil beserta Foto diri dan bagian telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.