Penasihat RSUD Sleman Beberkan Jalan Mengetahui Antibodi Pasca Vaksin Covid-19

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Direktur RSUD Sleman dr. Cahya Purnama M. Kes mengatakan, warga dengan telah suntik vaksin Covid-19 tidak boleh lengah. Maksudnya, mereka yang telah melaksanakan vaksinasi tetap harus menyelenggarakan protokol kesehatan dengan cara, benar, dan secara tetap. Sebab, antibodi pasca vaksin sangat tergantung pada iklim tubuh.

Antibodi adalah bagian dari sistem kekebalan yang bekerja untuk melindungi tubuh dari bahaya virus, bakteri, kuman zat-zat yang dapat menyebabkan aib infeksi. Antibodi memiliki kegiatan penting bagi tubuh. Yakni, sebagai benteng pertahanan kepada antigen seperti virus, kuman, dan zat beracun dengan menjadi penyebab penyakit.

Secara teori antibodi atau kekebalan tubuh hendak terbentuk selama 28 keadaan setelah menjalani vaksinasi macam Sinovac yang pertama. Tepatnya, 14 hari usai melaksanakan vaksinasi yang pertama, ditambah 14 hari usai menjalani vaksinasi yang kedua.

Direktur RSUD Sleman dr. Cahya Purnama M. Kes. (FOTO: Fajar Rianto/TIMES Indonesia)

Nah, buat mengecek dan memastikan terbentuk antibodi pasca di vaksin dan setelah sembuh dibanding Covid-19 adalah dengan cara dilakukan tes Antibodi Kuantitatif.

“Dengan tes Antibodi Kuantitatif ini akan terlihat apakah antibodi kita sudah mampu atau belum untuk melindungi tubuh, ” terang Cahya.

Cahya mengingatkan, setiap karakter berbeda-beda menyangkut antibodi. Karakter yang sehat maupun penyintas belum tentu terbentuk antibodi atau kekebalannya. Namun serupa itu, hingga kini belum ada kebijakan lebih lanjut.

“Biasanya, mereka dengan kondisi kesehatan yang indah akan terbentuk. Untuk tahu itu perlu dilakukan test Antibodi Kuantitatif tadi, RSUD Sleman sudah bisa melayani test ini dengan tarip yang memadai, ” sahih Cahya.

Menurutnya, metode test Antibodi Kuantitatif dengan melakukan pemeriksaan pembawaan untuk melihat antibodi kita terbentuk atau tidak. “Minimal bagi orang yang divaksin, maka sudah ada organ memory. Sehingga, tubuh mau tahu kalau kemasukan virus maka ia akan cepat mengenali dan memberikan respon, ” terang Cahya.

Wartawan TIMES Indonesia, Pagi buta Rianto ketika menjalani suntik Vaksin-19 di RSUD Sleman. (FOTO: Dok. Fajar Rianto/TIMES Indonesia)

Menyangkut ada tidaknya respon, lanjut Cahya, bersandar terbentuk tidaknya antibodi. Bagi yang sudah di vaksin dua kali dan antibodi mereka sudah penuh. Dengan demikian mereka kemungkinan tinggi dapat menangkal virus atau kalau kena sekalipun tidaklah berdampak berat dan hanya masuk OTG.

“Jadi, warga yang sudah divaksin tetap wajib menerapkan protokol kesehatan agar selamat dari bahaya Covid-19, ” papar Cahya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah menyiapkan sebanyak 52 fasilitas kesehatan (faskes) sebagai tempat program vaksinasi Covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24 berupa vila sakit, 25 puskesmas, dan 3 tempat berupa klinik yang ada di Kabupaten Sleman.

Selain itu, Dinkes Pemkab Sleman juga melaksanakan vaksinasi dalam luar faskes. Diantaranya, pelaksanaan vaksinasi bagi sebanyak 3. 000 aparatur sipin negara (ASN) di Sleman City Hall. Program suntik Vaksin Covid-19 yang diikuti jawatan vertikal, kejaksaan, BUMN/BUMD, OPD Pemkab Sleman ini berlangsung sejak 8-10 Maret mendatang. Termasuk vaksinasi bagi wartawan yang dilakukan di RSUD Sleman. Semoga, warga yang telah disuntik vaksin Covid-19 membuat andibodi tubuhnya menawan. (*)