Menyikapi Perbedaan Aksen dan Pelafalan Kerabat Urban

Menyikapi Perbedaan Aksen dan Pelafalan Kerabat Urban

TIMESINDONESIA, PAMULANG – Dalam belajar linguistik, ada istilah aksen dan lafal. Aksen merupakan variasi sopan santun yang berbeda daripada variasi standar, terutama dalam ucapan. Secara ijmal, orang lebih mengenal aksen secara kata logat. Sedangkan lafal ialah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa. Proses mengucapkan bunyi bahasa disebut juga dengan pelafalan.

Aksen dan pengucapan berjalan beriringan. Keduanya memiliki keterkaitan. Orang yang melafalkan suatu nada pasti menggunakan aksen. Aksen seseorang dipengaruhi oleh bahasa ibu. Penutur yang menjadikan bahasa Sunda jadi bahasa ibunya maka dalam menyuarakan bunyi bahasa akan memiliki intonasi kesundaan. Begitu juga penutur dengan menjadikan bahasa Jawa sebagai norma ibunya, maka akan memiliki ritme kejawaan.

Huruf merupakan lambang bunyi bahasa. Masing-masing norma memiliki pelafalan yang berbeda-beda dalam hurufnya. Kita bisa melihat dengan jalan apa huruf T dilafalkan. Orang Sunda melafalkan /t/ untuk semua huruf T. Orang Bali akan melafalkan /ṫ/ untuk semua huruf T. Sedangkan orang Jawa lebih mampu lagi. Jika T pada kata maka akan dilafalkan /t/. Jika huruf T terdapat pada kata pendahuluan maka akan dilafalkan /ṫ/. Andaikata terdapat pada kata maka akan dituturkan /ť/. Lantas, orang mana yang tuturannya paling benar? Segenap benar; yang salah yaitu orang yang menyalahkannya.

Bagian tutur manusia terbentuk dalam waktu yang lama. Organ tutur tersebut mempangaruhi pelafalan pemiliknya. Kebiasaan memakai satu bahasa dan hidup pada masyarakat yang mayoritas berbahasa yang sama juga akan membentuk aksen kode tersebut. Itu sebabnya, setiap karakter tidak bisa mengusai semua lagu kalimat.

Perbedaan aksen di pelafalan menjadi hal yang lumrah terutama di perkotaan. Dan tersebut menjadi bukti keanekaragaman budaya dengan ada di sekitar kita. Kawanan masyarakat di kota besar datang dari daerah dan suku marga yang berbeda satu sama asing. Kawasan Jabodetabek misalnya. Sebagai induk politik, bisnis, dan industri mendirikan Jabodetabek dijadikan sebagai tempat arah migrasi dari berbagai daerah. Tersebut sebabnya sering kita jumpai orang-orang dari berbagai daerah ada di sini.

Belakangan ini, kelompok di media sosial memperdebatkan mana penulisan huruf yang benar terpaut pelafalan huruf ح pada klausa الخاتمة حسن. Menggunakan huruf H atau KH. Perdebatan tersebut menunjuk pada pelambangan dari huruf hijaiyah dalam huruf abjad yang keduanya memiliki latar budaya yang bertentangan.

Bahasa Melayu dan bahasa Inggris yang sama-sama menggunakan huruf abjad pun memiliki perbedaan pelafalan. Kosa kata bahasa Inggris memiliki perbedaan antara pelafalan serta penulisan. Bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf abjad namun praktiknya mempunyai lebh dari 50 pelafalan bunyi. Itu sebabnya ada istilah homograf; kata yang penulisannya sama tetapi pengucapannya berbeda. Apalagi jika huruf abjad tersebut digunakan untuk mentranskripsikan kosa kata dari bahasa lain.

Media sosial berbasis tulisan seperti whatsapp, twitter, telegram, facebook, dan semacamnya tentu akan memancing perdebatan terutama pada transkripsi penuturan dari bahasa lain. Sepatutnya perdebatan transkripsi bahasa lain harus disudahi. Penggunaan bahasa dalam koneksi sosial harus memperhatikan tujuan (end) dan konteks tuturan (key).

Dalam ungkapan belasungkawa ada yang menulis khusnul khotimah atau husnul khotimah. Mana yang benar? Jika memperhatikan konteks tuturan (key) dan tujuan tuturan (end) oleh karena itu baik khusnul maupun husnul keduanya baik. Karena tujuannya bermakna indah (حسن) bukan (خسن). Hal itu karena dalam adat ketimuran, karakter meninggal dunia harus didoakan yang baik-baik.

Begitu juga pada penulisan آمين‎. Ada dengan menyalahkan penulisan amin yang benar amiin, bukan amien, aamin, dsb. Lagi-lagi timbul perdebatan. Ditinjau sejak tujuan dan konteks baik mengabulkan, aamiin, amien, dsb maka semuanya benar. Hal itu karena pelambangan dalam huruf abjad berbeda dengan pelambangan dalam huruf hijaiyah. Langsung bagaimana menyikapi hal tersebut?

Dalam kajian Fonologi, ada yang namanya transkripsi fonetik. Salinan fonetik berfungsi untuk melambangkan tala berdasarkan pelafalan yang sebenarnya. Berbagai bunyi bahasa di dunia bisa ditranskripsikan menggunakan transkripsi tersebut. Tersebut sebabnya, para leksikograf dalam menyusun kamus juga menambahkan tranksirpsi suara pada setiap kata. Hal tersebut dimaksudkan agar setiap orang dengan membaca tulisan tersebut juga akan mengetahui cara membacanya tanpa kudu bertanya kepada pemilik bahasa itu.

Kita tidak menetapkan menggunakan transkripsi fonetik dalam menulis di media sosial. Hal tersebut karena transkripsi fonetik memiliki puluhan lambang bunyi. Selain itu pula karena rumitnya mempelajari bunyi kaidah. Maka dari itu, perdebatan masalah penulisan bunyi yang benar di media sosial harus disudahi. Selain tidak efektif juga karena adalah tindakan mubazir. Apalagi jika ke-2 belah pihak sama-sama merasa menyesatkan benar. (*)

***

*) Oleh: Misbah Priagung Nursalim, M. Pd.; Dosen Linguistik di Universitas Pamulang.

*) Tulisan Opini itu sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka buat umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan bagian telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menatangkan opini yang dikirim.