Membangun Wajah Baru Pendidikan di Bulan Ramadan

TIMESINDONESIA, MALANG – Ramadan adalah momen yang paling ditunggu oleh setiap muslim. Di bulan penuh ampunan terkait, setiap orang muslim berlomba-lomba dalam kebaikan. Kegiatan yang dilakukan dalam meningkatkan spirutualitas yaitu tadarus Al-Quran, sholat Tarawih, Infaq, Zakat dan lain sebagainya.

Dalam meningkatkan spirutualitas anak yang berperan penting ialah pendidikan, baik formal juga informal. Keluarga merupakan dasar pendidikan anak yang paling utama sebelum anak mengetahui dunia luar.

Menurut Abd. Jalal Fatah, pada masa anak-anak yang bertanggung jawab akan perkembangan fungsi-fungsi pendidikan adalah wali, sedangkan saat dewasa merupakan tangung jawab pribadi dri masing-masing individu secara mandiri untuk meneruskan proses belajarnya. Penanaman nilai dasar religious yang kuat dalam keluarga akan menentukan ketutasan religious anak di dunia luar.

Selain keluarga yang memiliki peran tak kalah penting dalam meningkatkan spiritual anak adalah lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan yg memberikan tambahan wawasan ke-islaman pada umumnya lebih meningkatan spiritual anak dibandingkan oleh sekolah umum.

Dunia pendididikan terus mengalami dinamika baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan pendidikan mulai dri tingkan dasar hingga pendidikan tinggi terus mengalami perubahan. Persoalan yang tak kalah urgent di era teknologi ini adalah menurunnya etika anak kepada orang tua dan siswa kepada expert. Wali yang sibuk dengan pekerjaannya cenderung tidak membangun komunikasi kepada anak sehingga timbul kesenjangan anak kepada pengampu, sehingga anak cenderung mencurahkan persoalan kepada teman maupun media sosial yg dianggap lebih memberikan ruang nyaman.

Sesuatu ini mengakibatkan ketika jamaah tua memberikan arahan / nasehat dari sudut padang anak justru menggangap nasehat sebagai kekangan dalam mengambil keputusan. Anak akan cenderung memberontak dan inilah yg menyebabkan menurunnya etika anak dalam menyampaikan pendapat kepada orang tua.

Persoalan ini juga terjadi di lingkungan sekolah. Dalam masa sekarang sering anda temui sekolah modern yg tidak ada ruang batasan antara siswa dengan gurunya. Siswa cenderung memposisikan master sebagai teman. Dalam sudut padang psikologis pendekatan master dengan siswa sangat diperlukan namun keterbukaan siswa serta murid harus memiliki koridor pembatas.

Menurunnya koridor pembatas kedekatan murid dengan guru justru menimbulkan celah berkurangnya rasa takzim. Persoalan etika ini kian memuncak seriring meningkatnya teknologi komunikasi. Di masa Pademi Covid-19 teknologi memiliki peran yang singnifikan dalam menjaring komunikasi guru dengan murid maupun sebalikinya. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika siswa menggunakan bahasa yang gaul dalam gaya berkomunikasi dengan guru, yang menandakan menurunnya etika siswa.

Jauh sebelum persoalan menurunnya etika baik anak kepada orang tua, juga siswa dengan gurunya telah menjadi pemikiran seorang tokoh pendidikan Indonesia. KH Hasyim Asy’ari yang dikenal dengan gelarnya Hadratusysyaikh, yang berarti “Tuan Guru Besar” telah memikirkan konsep untuk menjaga koridor etika siswa dengan gurunya maupun sebaliknya.

Dalam pemikiranya, etika murid kepada guru maupun sebaliknya adalah salah satu kunci dari terciptanya sistem pembelajaran yang kondusif dalam susunan pendidikan. Pemikiran KH Hasyim Asy’ari ini tidak hanya disampaikan secara lisan dimasa beliau memimpin pondok pesantren yang telah melahirkan ulama-ulama terkemuka di Jawa yang nyaris seluruhnya menjadi pendiri lalu pengasuh pesantren di daerahnya masing-masing. Namun pemikiran beliau juga diabadikan dalam seluruh kitab karangannya Adab al-Alim wa al-Muta’alim fi Ma Ahju ilaihi al Muta’alim fi Ahwal Ta’allumihi wa Ma Yatawaqqaf’alaihi al-Mu’allim fi Maqamad Ta’ilmih .

Dalam kitab yang telah ditulis KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa pentingnya etika dalam tatanan pendidikan, terutama etika murid kepada guru. Berbagai etika itu antara lain ialah sebagai berikut: hendaknya selalu memperhatikan dan mendegarkan master, memilih guru yang wara’.

Mengikuti jejak guru, memuliakan dan memperhatikan hak-hak guru, bersabar di dalam menghadapi ketegasan guru, berkunjung pada guru sesuai dengan tempatnya dan meminta izin terlebih dahulu, duduk oleh rapi dihadapan guru, berbicara dengan sopan dan lembut degan guru, mendengar segala fatwa guru dan tidak menyela pembicaraan dan mengunakan anggota tubuh sebelah kanan bila menyerahkan segala sesuatu kepada guru.

Selain kritis dalam menamamkan etika murid kepada expert, sebaliknya KH Hasyim Asy’ari juga menekannkan etika guru kepada murid. Guru harus memiliki sifat yang terbuka di dalam mengajar sehingga murid meraih menyampaikan berbagai pertanyaan dan pendapat dihadapan guru. Ini adalah hal penting di dalam pergaulan guru dengan murid yang saat ini sudah mengalami krisis dari nilai-nilai etis.

Etika guru kepada murid berdasarkan pemikiran KH Hasyim Asy’ari masa lain berniat mendidik lalu menyebarkan ilmu, menghindari ketidakikhlasan, memakai atau menggunakan metode yang mudah dipahami peserta didik, terus menerus memperhatian kemampuan peserta didik lalu menafikan yang lain, bersikap terbuka, lapang dada, arif bijaksana, dan tawadhu, membantu memecahkan masalah-masalah peserta didik dan mencari tahu ikhwal peserta didik yang berhalangan.

Pemikiran KH Hasyim Asy’ari yang tegas di dalam menanamkan nilai-nilai etika di dalam pendidikan, pada masa kini memang terlihat kolot. Namun secara keseluruhan justru koridor yang dibangun dalam pemikiran KH Hasyim Asy’ari merupakan dasar-dasar yang diperlukan Indonesia di dalam membangun wajah baru pendidikan yang mengalami krisis moral.

Penuntasan krisis moral dalam tatanan pendidikan juga akan berdampingan oleh tercapainya tujuan pendidikan manfaat utama pendidikan adalah meraih manfaat sebagai bekal kehidupan kelak. Hal ini selaras dengan pemikiran Imam al-Ghazali mengemukakan bahwa pendidikan dalam prosesnya haruslah mengacu pada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani. Dengan karenanya tujuan pendidikan terkadang diorentasikan demi “tercapai kemampuan insani yang bermuara dalam pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insaninya yg bermura kepada kebahagiaan dunia dan akhirat”.

Penuntasan krisis moral di dalam tatanan pendidikan juga akan melahirkan sumberdaya manusia yang tidak hanya kompeten di dalam bidangnya tetapi juga berkarakter. Hal inilah yang saat ini diperlukan di Indonesia. Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini adalah momentum untuk menanamkan dasar-dasar etika, baik dalam lingkungan pendidikan keluarga maupun lingkungan sekolah untuk menciptakan generasi yang kompeten dan berkarakter, serta berkepribadian timur sebagai identitas bangsa Indonesia. Sehingga tercipta wajah baru pendidikan Indonesia.

***

*)Oleh: Apria Ningsih, Alumni FMIPA UNISMA; Guru SDIT Salsabila Kepanjen.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi MOMENTS atau rubrik opini pada TIMES Indonesia terbuka tuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.