Memang, Apa Sih Maunya Bung Karno Itu?

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Saat mempercakapkan Bung Karno, pasti menyoal Panca Sila. Ini betul, tak salah.

Saat diskusi lagi soal Bung Karno. Pasti menyenggol juga soal perjuangan mencapai Indonesia merdeka. Ini juga tak salah.

Sosok Bung Karno bisa dibahas lewat banyak ujung pandang. Mulai seni, pendidikan, kebudayaan, politik, ideologi, keluarganya dan sampai soal barang pusaka miliknya. Tak ada yang salah membahas Bung Karno dari banyak sudut pandang. Benar semua.

Tapi ada yang tahu nggak? Apa sih maunya Bung Karno sesungguhnya?

Nah, ini soal yang jarang dibahas. Terutama perkara gotong royong sebagai pertimbangan ideologi.

Cakap soal ini, kita harus meletakkan Bung Karno di eranya. Sebuah era geopolitik saat dunia terbagi perut blok. Blok Barat serta Blok Timur. Beberapa cakap menyebut, hakikat perseteruan antarblok itu adalah pertarungan jarang dua ideologi besar era itu: kapitalisme dan sosialisme (termasuk di dalamnya komunisme).

Akar kapitalisme adalah teori survival of the fittest . Yang kuat bertahan, dia yang menang.

Siapa pencetusnya? Tersedia yang mengatakan Charles Darwin. Namun, banyak ilmuan menguatkan Herbert Spencer lah lantaran teori survival for the fittest .

Sebenarnya keduanya membahas hal yang cocok: teori evolusi. Bedanya, Darwin membahas dari aspek ilmu makhluk hidup. Spencer cenderung ke arah sosiologi dan ekonomi.

Nah, akar aliran kapitalisme berawal dari penghampiran Spencer ini. Bahwa Jiwa Kuat, Si Kaya lah yang mampu bertahan, sebagai pemenang. Yang kecil, yang lemah, dan tak bergaya akan tersingkir.

Adapun akar ideologi sosialisme adalah perjuangan kelas. Persabungan kelas. Si Kecil, Si Miskin, Wong Cilik harus berjuang. Bahkan harus melawan bila hak kemanusiaannya ditindas oleh Si Besar, Si Kaya, Si Pemilik Pangkal atau Si Penguasa.

Pencetus teori perjuangan kelas ini adalah persekutuan Karl Marx dengan Friedrich Engels.

Berserakan, apa kaitannya dengan Bung Karno?

Bung Karno hidup di sebuah era kebangkitan ideologi perjuangan kelas sebagai jawaban kritis atas munculnya banyak problem sosial dan ekonomi akibat ideologi kapitalisme.

Bung Karno hidup pada era menjamurnya gerakan kebijakan dan revolusi di penuh negara untuk melawan pembenaran sebuah negara menjajah negeri lain. Pembenaran sebuah bani menjajah bangsa lain. Masa Gold, Glory and Gospel.

Bung Karno merenung lama dan menimbang dua ideologi besar itu.

Pada satu titik, Bung Karno tahu, ada yang salah dalam dua ideologi itu. Aliran yang benar, harusnya bisa menyejahterakan, membahagiakan dan menghargai manusia dan alam. Tidak untuk perang, saling pati padam, menindas dan merusak zona.

Ideologi yang benar, seperti ajaran banyak agama dan sejumlah kebiasaan klasik, ujungnya adalah kehidupan harmonis. Harmoni manusia dengan manusia, harmoni manusia secara alam.

Kedua ideologi itu dinilai Bung Karno, cenderung membentuk sebuah dunia yang penuh percekcokan, penuh pertentangan.

Akar ide perjuangan bagian dan survival of the fittest , hakikatnya sebenarnya sama. Keduanya cenderung mempertentangkan perbedaan. Mampu versus miskin. Penguasa versus proletar. Tak salah yang kuat menindas lemah. Tuan menindas buruh.

Mempertentangkan perbedaan cenderung melayani kodrat alam. Melawan sunnatullah. Demikian tradisi Islam menyebutnya. Tradisi Tiongkok kuno menyebutnya: Yin-Yang. Hakikat sunnatullah, Yin-yang adalah harmoni. Tak ada pertentangan.

Kaya-miskin, penguasa-proletar, besar-kecil, laki-perempuan, panas-dingin, siang-malam, sampai orang indra peraba berwarna-orang kulit putih bukan hal yang harus dipertentangan. Perbedaan adalah sebuah keseimbangan yang sangat indah. Suatu rahmat yang sangat gembung.

Gotong Royong

Konon. Dalam bawah sebuah pohon. Bung Karno menemukan sebuah tangkisan: Gotong Royong.

Kata Bung Karno, gotong royong dia rumuskan sejak perasaan dan keinginan sanubari rakyat Indonesia yang pasif selama berabad. Dia menyingkapkan akar watak atau sifat rakyat Indonesia yang tak pernah akan hilang dibanding zaman ke zaman: Gotong Royong.

Cita-cita Gotong royong adalah manifestasi sunnatullah. Manifestasi harmoni pribadi dan alam. Dalam mengangkat royong ada simbiosis mutualisme, saling menguatkan, dan silih bergantung. Bukan saling mempertentangankan.

Ide mengangkat royong ini kemudian dia jabarkan dalam bentuk Longok Sila. Sebuah ide untuk pegangan hidup berbangsa serta bernegara bagi bangsa Nusantara untuk hidup damai serta harmonis.

Membentuk Dunia Kembali

Ide gotong royong (baca: Panca Sila) ini selalu dia tawarkan untuk dunia. Ide gotong royong yang dia tawarkan adalah wujud kritik ideologi untuk sosialisme dan kapitalisme yang cenderung membuat dunia porak poranda tadi.

Bung karno jabarkan ide mulia itu dalam sebuah pidato bertajuk “Membangun Dunia Kembali” atau “To Build The World A New” dalam Sidang Umum PBB ke-15, 30 September 1960.

Dari pengalaman kami sendiri. & dari sejarah kami sendiri, tumbuhlah sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih sesuai (untuk dunia). Objek yang jauh lebih pas (untuk dunia). Arus memori memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan segalanya konsepsi dan cita-cita. Bila mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita, negara itu menjadi suram dan usang, maka kerabat itu ada dalam kecelakaan. Sejarah Indonesia memperlihatkannya secara jelas. Demikian pula halnya dengan sejarah seluruh negeri , ” kata Bung Karno saat menjabarkan konsep Panca Sila.

Saat itu, Bung Karno sebenarnya sudah memulai menyelenggarakan sejumlah gerakan politik gotong royong secara global. Salah satu momentumnya adalah menggunakan Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Bung Karno sadar. Bangsa Nusantara tak akan bisa menikmati hidup harmoni bila pada luar masih banyak kaum dan negara yang masih ingin perang terus. Masih ingin terus menjajah negara dan bangsa lain.

“Dunia harus dibangun lagi dengan semangat perdana. Semangat gotong royong”. Begitulah keinginan Bung Karno. Sebuah dunia dengan kehidupan bangsawan dan bernegara yang sesuai.

Kembali ke laptop… Jadi, menempatkan serta membahas Bung Karno cuma sekadar soal Indonesia Mandiri dan Panca Sila sekadar adalah sebuah pengerdilan cerita. Perjuangan Bung Karno diatas itu.

Perjuangan Bung Karno adalah soal masa depan dunia. Kala depan manusia. Dan periode depan kemanusiaan. Perjuangan buat mewujudkan sebuah tatar dunia baru yang harmonis dan damai.

Tersebut maunya Bung Karnosebenarnya. (*)