Memahami Gilo-Gilo, Gerobak Kuliner Murah Masyarakat Semarang

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Gilo-gilo merupakan gerobak dorong dengan menjajakan aneka jajanan murah pada Kota Semarang. Keberadaan gilo-gilo ini tidak terpusat di suatu lokasi tempat, melainkan ada di induk kota hingga ke pinggiran.

Satu di antara penjual gilo-gilo adalah Marwoto (45), yang biasa mangkal di Jalan Pattimura Semarang. Dirinya menyatakan jika nama gilo-gilo berasal dari bahasa Jawa yakni ‘niki lo-niki lo’ yang lama kelamaan menjadi gilo-gilo.

Dalam gerobaknya tersebut Marwoto menjual aneka jajanan, mulai dari gorengan, lumpia, bakwan, martabak sayur, arem-arem, sate keong, semangka, keliki, melon, nasi kucing, nanas dan minuman yang dibungkus plastik kecil.

“Harga per jajan terjangkau dan murah meriah. Aku jual mulai dari Rp satu. 000 sampai Rp 3. 000, ” ungkapnya pada Times Nusantara, Senin (28/09/2020).

Menurutnya tidak hanya para tukang ojek dan masyarkat yang melintas, galas Marwoto juga dilarisi oleh personel kantor yang dekat dirinya mangkal. Para pembeli bisa duduk menikmati jajanan atau dengan berdiri.

Gerobak gilo-gilonya mulai laku sekitar pukul 12. 00 WIB, saat para pegawai istirahat. Walaupun kerap mangkal di lokasi tertentu, dirinya tetap berkeliling ke berbagai area.

Marwoto dengan telah puluhan tahun berjualan menambahkan, jika seiring perkembangan zaman, gerobak dorong gilo-gilo banyak dimodifikasi. Tidak terkecuali gerobak gilo-gilo miliknya.

Dia menambahkan sebuah instrumen motor pada gerobaknya. Tujuannya agar daya dan luas jelajah lebih tinggi ketika dibawa berkeliling. “Dulu punya saya berupa gerobak terlanjur. Karena jalanan turun naik, pedati saya tambahi motor, ” paparnya.

Namun, dia membaca gerobak gilo-gilo yang dimodifikasi itu tak banyak. Sampai sekarang masih banyak penjual gilo-gilo di Kota Semarang yang menggunakan gerobak dorong pedengan jalan kaki berkeliling mendorong gerobaknya. (*)