Lia Isthifama Raih Gelar Doktor

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Salah utama figur perempuan millenial Surabaya, Lia Istifhama, telah berhasil menunjukkan ikhtiarnya menyelesaikan tugas akhir Program Doktoral UIN Sunan Ampel Surabaya. Anak almarhum KH Masykur Hasyim itu mengungkapkan rasa syukurnya telah menjelma doktor ke-591 dari salah satu kampus terbaik Indonesia.

“Alhamdulillah, ini bukan persoalan tinggi hati dengan sebuah gelar. Mengecualikan ini semua adalah pencapaian yang tidak mudah. Proses yang kudu dilalui sangat panjang dan memerlukan konsentrasi tinggi. Disertasi sebagai pamungkas studi, harus bisa memberikan andil teoretis yang nyata dan istimewa untuk menjadi sebuah penemuan penelitian, ” ungkapnya, Selasa (4/8/2020).

Lia-Isthifama-2.jpg

Figur Nahdliyyin yang juga ketua DPP Perempuan Tani Jatim tersebut, menjelaskan alasan pemilihan disertasinya.

“Concern penelitian ini adalah dengan jalan apa kita dapat mengetahui peluang bagi pasar tradisional untuk dapat menetap, ” imbuhnya.

Pentingnya mengetahui tersebut, lanjut Lia, sebab pasar tradisional adalah potret usaha rakyat dan merupakan bentuk at-tawaazun (keseimbangan) dalam perdagangan agar tak selalu dimonopoli kaum kapitalis.

Setting penelitian sendiri dilakukan di Pasar Soponyono, Rungkut, karena pasar tersebut berada di kolong yayasan sebuah masjid, yaitu masjid Tholabuddin.

Profit daripada pasar diperuntukkan bukan hanya operasional pasar, melainkan juga pengembangan masjid, lembaga pendidikan, dan zakat-sodaqoh.

Dari sisi pedagang tunggal, memiliki karakter modal sosial agung, yaitu ‘amaanah (trust, kepercayaan), ukhuwwah Islamiyyah (networks, jaringan sosial), serta at-ta’aawun (reciprocal, aksi saling menolong).

Modal sosial itu menjadi strategi jaringan yang betul penting untuk digunakan sebagai strategi bisnis karena kelemahan modal ekonomi dapat ditunjang dengan modal sosial.

lia-istifhama-3.jpg

“Ini pengejawantahan teori keterlekatatan sosio-ekonomi Mark Granovetter, ” jelas alumnus Magister UIN Sunan Ampel dengan meraih nilai 3, 80 di dalam 2013 lalu.

Mengenai yang menjadi dewan penguji di dalam ujian terbuka pada Senin (3/8/2020) kemarin adalah Prof. Dr. H. Aswadi, M. Ag; Dr. H. M. Lathoif Ghozali, MA; Prof. Dr. H. Burhan Djamaluddin, MA; Dr. Sirajul Arifin, MEI; Prof. Dr. H. Babun Suharto, MM; Dr. H. Iskandar Ritonga, M. Ag; Dr. Mugiyati, MEI.

Promotor yang mendampingi Kepala III STAI Taruna Surabaya tersebut, adalah Prof. Burhan Djamaluddin serta Dr. Sirajul Arifin.

Keduanya menekankan pentingnya menemukan kebaruan data, implikasi teori dan bentuk modal sosial yang secara jelas memang menjadi penguat ketahanan cara pedagang.

Hadir sebagai Ketua penguji, Direktur PPS UINSA menekankan pentingnya merelevansikan modal baik dengan etika sosial. Sedangkan penilai utama, yaitu Prof. Babun mendahulukan pentingnya validitas data dalam studi.

Pakar ekonomi Islam, yaitu Dr. Iskandar Ritonga serta Dr. Mugiyati lebih menekankan identitas penting dari setting penelitian dan metodologi.

Sedangkan carik penguji, Dr. Lathoif, mengambil penekanan dalil naqli dalam unsur modal sosial. Semua penekanan yang menjadi pertanyaan selama berlangsungnya ujian terkuak, berhasil dijawab oleh pronovendus Lia Istifhama.

“Meraih rencana doktoral adalah bukti keseriusan mbak Lia Istifhama meluangkan waktu mentuntaskan kewajiban menyelesaikan studi ditengah aktivitasnya, ” ungkap Dr Sirajul Arifin dalam sambutan penutupnya setelah pengukuhan Gelar Doktoral yang langsung disampaikan oleh Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. H. Aswadi, M. Ag. (*)