Kedai Mamo dan Kehangatan Tersembunyi Padepokan Mangun Darmo di Malang

Kedai Mamo dan Kehangatan Tersembunyi Padepokan Mangun Darmo di Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Sisi kaya Padepokan Seni Mangun Darmo di Hidup Mangun Darmo 8 Kemulan, Dukuh Tulusbesar, Tumpang, Kabupaten Malang itu patut dicontoh. Padepokan seni tari ini berinovasi dengan membuka kedai kopi bernuansa alam dengan sentuhan zaman dahulu bernama Kedai Mamo.

Kedai Mamo, nama kedai kopi tersebut merupakan akronim dari Mangun Darmo, nama padepokan seni tersohor yang sudah berdiri sejak 1989 silam ini.

“Mungkin nama ini unik, sebab mengandung singkatan yang jika diartikan sama. Tapi kita ingin kesannya lebih agak mudaan sedikit, ” ungkap pengelola kedai Mamo, Rendra Setya Nishar Dewantara kepada TIMES Indonesia saat ditanya perihal asal mula pemberian nama.

KEdai Momo a

Bangunan vila kayu dengan jendela lebar secara desain jaman dahulu menjadi daya tarik tersendiri saat berkunjung ke Kedai Mamo. Kedai yang beruang di ketinggian membuat kita leluasa untuk memandang perkebunan serta vila penduduk di sekitar dusun Kemulan.

Jika mengambil wadah di luar, mata kita mau tertuju pada pohon beringin tumbuh yang menjadi background dari bangunan kayu Kedai Mamo.

“Kalau malam kita kasih spotlight, kita arahkan ke pohon beringin. Jadi kesannya pohon beringin tersebut menyala, ” ujar Rendra yang merupakan putra dari pemilik Padepokan Seni Mangun Darmo, M Sholeh Adi Pramono.

Secara menu, selain menyajikan kopi lokal juga terdapat wedang uwuh serta wedang jahe yang merupakan hasil kebun masyarakat lokal. Untuk makanan ringan ada ketan bubuk secara berbagai macam variasi topping.

Bisa jadi Kedai Mamo berusaha menciptakan suasana yang terpendam di balik nama besar Padepokan Seni Mangun Darmo. Padepokan itu dikenal karena sisi edukasi dengan kuat dalam hal kesenian.

KEdai Momo b

Yakni mengajarkan seni tari khas Udi, karawitan, wayang topeng, mocopat, pukulan kepang dor, bantengan, kerajinan topeng, kerajinan wayang kulit dan pembelajaran batik untuk siswa sekolah serta mahasiswa.

Rendra sendiri memiliki misi tersendiri di balik pendirian Kedai Mamo tersebut, yakni dirinya ingin mengubah persepsi bahwa padepokan seni hanya dikunjungi sebab kalangan tertentu.

“Ketika berdiri sebenarnya cita-cita saya sederhana ingin mendapatkan manfaat secara ekonomi. Tapi semakin kesini ternyata berkembang, banyak anak muda yang sampai, mereka mulai bertanya-tanya tentang aksi seni. Ini tentu sangat menggembirakan, ” ujar pria penghobi fotografi ini.

Untuk menyusun Kedai Mamo, Rendra mengaku memerlukan waktu setahun. Sebab tidak hanya kedai yang dia bangun, memperbedakan membangun suasana hingga benar-benar sip untuk dinikmati.

“Ya, kurang lebih satu tahun. Hamba saat itu juga memiliki kegiatan lainnya, di sisi lain kedai ini juga sarat dengan nuansa alam jadi mau tidak suka kita harus mengatur sedemikian susunan, ” jelasnya.

Biarkan Orang Mencari

Kalau sebelumnya tidak pernah ke Kedai Mamo, orang tentu akan memeriksa di mana pintu masuknya. Pokok tidak ada papan nama dengan terpasang di tepi jalan. Kendati padepokan ini cukup besar dan menjulang, namun akses masuk dengan terlihat hanya untuk ke padepokan.

Pintu masuknya ternyata ada di sebelah kiri padepokan, sebuah jalan kecil namun menanjak hanya ditandai dengan bambu yang melambangkan pintu masuk.

“Kalau menurut saya, biarkan orang mencari. Mungkin orang akan bertanya pada penduduk, itu akan menaikkan interaksi orang dengan penduduk sekitar sini, ” ujarnya terkait individualitas Kedai Mamo di Kabupaten Rengsa ini. (*)