Karakter Taruna Bagi Instansi, Bangsa & Negara

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Taruna ialah sebutan bagi seseorang yang sedangkan menempuh pendidikan tinggi di suatu akademi atau sekolah tinggi. Taruna juga memiliki arti sebagai pribadi yang disempurnakan, karena taruna dituntut untuk bisa segala hal.

Menjadi taruna merupakan sepadan kebanggaan sekaligus tantangan karena ekspektasi dan tanggung jawab yang dipikul oleh taruna begitu besar. Kandidat memiliki pendidikan yang tinggi, calon intelektual ataupun cedekiawan muda jadi diharapkan mampu menjadi pelopor transformasi bagi instansi, bangsa dan Negara.

“Bangsa ini tidak kekurangan paranormal, tetapi kekurangan karakter jujur, ” kata Kasino Warkop. Artinya taruna tidak hanya dituntut untuk pintar namun juga bersusila. Taruna yang memiliki tingkat pelajaran tinggi, ‘diwajibkan’ juga memiliki adab yang baik pula.

Tingkat intelektual seseorang taruna bakal disejajarkan dengan tingkat moralitasnya pada kehidupannya. Hal ini yang menjadikan mengapa taruna dijadikan kekuatan lantaran moral bangsa yang diharapkan menjelma contoh dan juga penggerak pemeriksaan moral pada masyarakat. Moral Force (kekuatan moral) adalah fungsi dengan utama dalam peran taruna di dalam kehidupan di instansi, berbangsa serta bernegara.

Peran taruna bagi instansi, bangsa dan Negeri meliputi sebagai agen perubahan, jadi penerus estafet kepemimpinan, dan jadi pengawal terselenggaranya kebhinekaan. Setiap modifikasi itu membutuhkan sejumlah individu untuk menjadi role model atau pemandu proses berjalannya perubahan yang berlaku dalam suatu instansi, bangsa maupun Negara. Itulah agen perubahan, kandidat diharapkan mampu menjadi sumber inovasi maupun kebijakan dengan target transisi di masa yang akan pegari.

Peran taruna sebagai penerus estafet kepemimpinan. Taruna sebagai generasi penerus bangsa diharapkan mempunyai kemampuan, keterampilan, dan akhlak luhur untuk menjadi calon pemimpin jadi pakai. Taruna merupakan asset, basi, dan harapan untuk masa pendahuluan.

Kemudian, taruna jadi pengawal terselenggaranya perwujudan kebhinekaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Taruna diharapkan mampu menjadi contoh penerapannya di masyarakat dalam bertoleransi, mengangkat royong membangun bangsa tanpa mengingat suku dan agama yang tersedia. Tidak saling membeda-bedakan bahkan mengebos karena hal ini dapat menimbulkan konflik dimasyarakat dan menjadi sumber perpecahan suatu bangsa.

Taruna merupakan generasi penerus bangsa, diharapkan menjadi garda terdepan untuk tidak melupakan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia.

Taruna harus dapat merealisasikan teori-teori yang didapatkan di instansi, buat mengatasi masalah, melakukan perubahan, mengikuti memajukan instansi, bangsa dan Negara. Taruna juga harus mempersiapkan dirinya sebagai garda terdepan penerus kerabat di masa depan. Taruna dituntut untuk memainkan peran lebih, tidak hanya bertanggung jawab sebagai ahli akademis, tetapi diluar itu tetap memikirkan dan mengembangkan tujuan kaum.

***

*)Oleh: Akbar Faris Rama Hunafa, Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan.

*) Tulisan Opini itu sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau rubrik paham di TIMES Indonesia terbuka buat umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup kecil beserta Foto diri dan bagian telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak membawakan opini yang dikirim.