Jalan Sosial Sebagai Penggerak Perubahan

TIMESINDONESIA, SEBAL – Tahun 2020 dibuka dengan kemunculan Covid-19 semenjak bulan Desember 2019 sampai kamar Januari terlewati. Akan tetapi, bukan berarti masyarakat berhenti update berita dan status di media sosial. Media sosial ibarat ‘nasi’ era situasi pandemi, sangat berperan penting.

Wearesocial melaporkan jika pengguna media sosial sejak Januari 2020 sudah melonjak 3, 8 milyar. Tentu saja, masyarakat ingat pentingnya menggunakan sosial media. Dekat semua peristiwa menjadi sensasional anugerah peran media sosial. Termasuk informasi menghebohkan dari negeri Paman Sam karena kasus rasisme.

George Floyd dikabarkan menjadi target rasisme seorang polisi yang sedangkan mengamankan dirinya. Penangkapan Floyd sebab kepolisian Minnesota tersebut mendadak tersebar oleh rekaman amatir masyarakat dan CCTV. Video tersebut seketika menjadi sebuah berita menghebohkan Masyarakat sejak berbagai negara mengetahui kasus tersebut dari pemberitaan Floyd marak di media sosial.

Ini membuktikan media menjadi jendela mutakhir melihat dunia. Fungsinya sebagai jendela pengalaman, cermin dunia media sosial, pemandu, penyaring, forum, dan relasi. Keberadaan media sosial sudah menjadi asupan wajib selain sandang, pangan, papan. Masyarakat akhirnya turun berkepanjangan atas kasus rasisme ini bersamaan netizen terus berkicau 24 tanda non-stop.

Hal mengakui dari penyebaran kasus ini adalah kemunculan para netizen dari asing negeri Paman Sam yang turut mendukung anti rasisme dan ikut menggalang donasi. Sharing berita itu mulai melingkar ke seluruh arah dunia. Berhari-hari menjadi sorotan publik karena informasi masih menyebar sampai portal media berita seluruh dunia membicarakan.

Beberapa daerah yang melakukan demonstrasi kasus Floyd tersebut di antaranya Atlanta, Minneapolis, Denver, Houston, Louisville, kota New York, dan San Jose. Mereka yang turun lapangan sebagian besar melanggar protokol pencegahan Covid-19 jadi aksi protes menyaksikan kasus Floyd.

Perlu diketahui kalau Insiden Floyd merupakan kasus rasisme kesekian yang berulang-ulang. Masyarakat dengan mengetahui dan pernah melihat pengalaman buruk berita ini akhirnya mengajak pengguna media sosial maupun masyarakat awam turun lapangan sebagai bentuk solidaritas anti rasisme.

Mari berandai sejenak. Jika tak ada yang merekam kejadian Floyd dan menyebar luaskan video ini, apakah pengguna media sosial mau tetap melek berita atau melanyak? Bagaimana kalau waktu dapat diputar kembali agar seseorang mencegah perseorangan untuk tidak melakukan hal keji pada Floyd. Apakah dunia langgeng aman?

Suatu perihal terbentuk dari suatu tindakan. Kemudian ada yang sharing ke jalan sosial, para pengguna mulai tersadar berita tersebut penting diketahui banyak orang, dan berlanjut di naikkan ke berita seputar kekerasan, kesedihan, kecelakaan, sampai ibadah haji tarikh 2020 ditunda. Sajian data, video, teks, infografis, bahkan foto kendati kelak menjadi jejak peradaban bani adam membangun ruang lingkup dunia maya.

Dengan bantuan publikasi berita di media sosial, kita menjadi tahu awal mula kronologi kasus rasisme ini atau melihat lagi berita lama yang mengangkat kasus serupa. Media menjadi teman dalam memahami dunia luar. Ada yang memperjuangkan hak asasi ditengah kerusuhan, ada pula berita jalan dari negara lain yang sudah aman dari Covid-19.

Sebesar-besarnya kasus Floyd dan Covid-19, masyarakat baik luar dan jati harus pandai memilah isi berita lagi. Peran masyarakat yang berperang di bidang kepenyiaran dan pers menjadi perwakilan masyarakat menyaring keterangan sekaligus memahami situasi sebenarnya. Fungsi media sebagai pemandu dan penyaring sangat penting dilakukan.

Sekarang, waktunya memanfaatkan media baik dengan sebaik-baiknya. Tidak ada berita yang paling baik, tidak tersedia berita yang paling buruk. Semua tergantung di tangan kita. Sedia dibawa kemana kah media baik ini di masa mendatang?

***

*) Oleh: Alethea Sugiharto Wijaya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan Pendapat ini sepenuhnya adalah tanggungjawab setia, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES atau ruangan opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah suntuk 4. 000 karakter atau kira-kira 600 kata. Sertakan riwayat tumbuh singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tak menanyangkan opini yang dikirim.