Jalan KBM Berkarakter Abad 21 Diterapkan di SMK Kesehatan tubuh Yannas Husada Bangkalan Madura

TIMESINDONESIA, BANGKALAN – Pelaksanaan kegiatan membiasakan dan mengajar (KBM) pada SMK Kesehatan Yannas Husada Bangkalan, Madura, menekankan huruf 4C Pembelajaran Abad 21. Keempat karakter itu merupakan critical thinking, creativity, communication, and collaboration .

Dengan adanya karakter pembelajaran tersebut, membuat guru di SMK Kesehatan tubuh Yannas Husada Bangkalan dituntut untuk selalu berinovasi. Maksudnya, agar memunculkan semua watak tersebut dalam diri pengikut didik.

“Bagaimana caranya membuat siswa berpikir serius, kreatif, bisa berkomunikasi & berkolaborasi dengan sesama. Jadi peserta didik bisa kreatif dalam pengerjaan tugas mereka, bisa berpikir kritis di dalam diskusi atau tanya tanggungan dengan guru serta peserta didik yang lain, serta bisa berkomunikasi dan berkolaborasi baik di dalam kelas ataupun diluar kelas, ” rata Andhika Satriono Amd Farm, Kepala Program Keahlian (Kaproli) Farmasi, SMK Kesehatan Yannas Husada.

Menurut Andika, di abad 21 sekarang itu, sebagaimana gebrakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim dengan programnya yaitu “Merdeka Belajar” yang salah satu isinya adalah “RPP dipersingkat”.

“Program ini memberikan kebebasan kepada guru untuk memilih, memproduksi, menggunakan, dan mengembangkan edisi RPP yang selanjutnya guru memiliki lebih banyak zaman untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengajar, ” nyata dia.

Patuh Andhika, dengan hanya satu halaman menjadikan penulisan RPP bisa dilakukan secara efektif dan efisien oleh pengasuh. Dengan demikian, guru mampu memfasilitasi peserta didik secara metode pembelajaran, model penelaahan dan media ajar dengan sangat unik dan terakhir.

“Imbasnya, proses pembelajaran menjadi menarik mengikuti peserta didik bisa berkembang dengan sendirinya, ” kata pendahuluan dia.

Andhika mengungkapkan salah satu program keilmuan yang ada di SMK Kesehatan Yannas Husada yakni program keahlian farmasi. “Dengan memberikan model pembelajaran project-based learning dan problem-based learning serta memasukkan topik yang lagi viral, peserta didik sangat terangsang dan terdorong untuk berkreasi dan berinovasi sesuai secara materi dan KD (kompetensi dasar) yang diberikan, ” jelas dia.

Andhika mencontohkan, peserta didik menginovasikan bahan herbal menjadi buatan skincare . Dalam situasi ini, siswa membuat produk yang antara lain yakni masker, lulur, lipbalm, serta sabun yang dibuat lantaran bahan herbal.

“Bahan asam basa yang disaponifikasikan dengan menambahkan 1 herbal di dalam skincare tersebut dan menggunakan pewarna serta parfum alami jadi mereka menghasilkan produk dengan memang beda dari biasanya dan benar-benar baru, ” papar dia.

Dalam mata pelajaran lain, contohnya mata pelajaran Kimia, Raddina Aprilia SPd, selaku guru mata pelajaran Kimia, menuturkan bahwa peserta asuh bisa menghasilkan produk secara pengembangan dari mereka sendiri.

“Dengan menyerahkan pendekatan scientific learning dan model penelaahan cooperative learning yang di antaranya DI (Discussion Interaction) dan STAD (Students Team Achievement Divisions), siswa bisa berpikir payah dan kreatif terhadap pembuatan bahan ajar Denah , ” terang Raddina.

Dia mengucapkan, selama ini indikator yang digunakan untuk menguji senyawa asam basa dalam pengerjaan Atlas adalah dari sasaran sintetis.

Tetapi, sebagai guru yang ahli, Raddina menugaskan peserta didik untuk membuat indikator alami dari bebagai macam bunga dan melakukan pengembangan sebab apa yang mereka pelajari.

Contohnya, sebutan Raddina, siswa berkreasi secara bunga tapak dara. Apakah bunga berwarna ungu ini bisa dijadikan indikator natural untuk menguji senyawa asam basa.

“Langkah tersebut menunjukkan cara bekerja peserta didik yang berat dan berusaha memunculkan kreativisme mereka sendiri dari barang apa yang telah pelajari. Meniru video pembuatan indikator mengambil ini bisa di akses di link https://youtu.be/CChXY9a8KnU,” perkataan dia.

Jalan yang sama dilakukan oleh instruktur pengampu mata pelajaran Kode Inggris, Fatimatus Suhroh SS MPd, yang memacu siswa berpikir kritis dengan urusan yang mereka hadapi.

“Siswa kami menganjurkan untuk menuangkan problem itu dalam sebuah komik secara menggunakan media aplikasi educational comic sehingga terjadi interaksi aktif, ” kata Fatimatus.

Komik edukasi tersebut, kata Fatimatus, adalah lengah satu contoh pengembangan menelaah peserta didik menggunakan jalan aplikasi terbaru yang melekat pada pelajaran Bahasa Inggris.

Sebagai benih kesimpulan dari proses kegiatan belajar mengajar di SMK Kesehatan Yannas Husada Bangkalan adalah sesuai dengan watak abad 21 yang dikenal sebagai 4C ( critical thinking, creativity, communication, and collaboration ).

“Untuk bisa memunculkan semua karakter itu, guru pengampu yang mana sebagai fasilitator, motivator & inspirator harus bisa cakap dalam berinovasi di setiap proses pembelajaran yang mau diberikan, ” kata pengasuh Bahasa Inggris SMK Kesehatan tubuh Yannas Husada Bangkalan, Madura, ini. (*)