Epidemi Thaun di Bulan Ramadhan Serupa Terjadi pada Zaman Rasulullah

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Wabah Corona atau Covid-19 yang terjadi sejak akhir tahun 2019 hingga era ini, menjadi perhatian masyarakat besar di seluruh penjuru dunia. Makin menganalogikan wabah ini dengan perihal yang pernah terjadi pada periode lalu.

Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat sejarah penyakit tha’un, yaitu sejak kala Rasulullah SAW. Penyakit tha’un terjadi pada beberapa periode, diantaranya di bulan Ramadhan.

Di dalam kitab al-Isya’ah li Asyrot al-Sa’ah yang ditulis oleh al-‘Allamah al-Muhaqqiq Muhammad bin Rasul al-Husaini (1040 H- 1103 H) disebutkan bahwa tho’un yang paling kritis dalam Islam ada lima.

Pertama, Tho’un Syirawaih, kejadian ini pada masa Nabi Muhammad ﷺ. kedua, Tho’un ‘Amwas dalam masa Umar bin Khattab. Ketiga, Tho’un al-Jarif, terjadi pada Bani Zubair. Keempat, Tho’un Fatayat, terjadi pada tahun 87H. Kelima, Tho’un al-Asyraf.

Tho’un pernah terjadi pada Ramadhan, yang kalau dianalogikan, peristiwa ini sama halnya dengan wabah Corona yang berlaku pada Ramadhan 1441 H. Makin akibat dari pandemi yang belum terhenti, terhitung per 5 Ramadhan atau 28 April 2020 di dalam penanggalan Masehi, akan dilakukan PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar di dalam wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.

Jika kita kembalikan pada hadis Rasulullah, bahwa epidemi penyakit tidak menjadi alasan adanya sikap panik berlebihan dan barangkali berpikir suudzon terhadap sesama bani adam yang beresiko terindikasi Covid 19. Sikap sabar seyogyanya dimiliki masa menghadapi situasi seperti ini, terlebih dapat memperkuat tawakkal pada Tuhan SWT.

Hadis Imam Bukhari nomor 5443: “Dari Aisyah istri Nabi SAW, sesungguhnya ia bercerita bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw mengenai penyakit tha’un.

Beliau melaporkan kepadanya, bahwa sesungguhnya penyakit tersebut merupakan siksaan yang diturunkan oleh Allah kepada siapapun yang Dia kehendaki. Namun Allah menjadikannya sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman. Setiap hamba yang negerinya padahal dilanda wabah tha’un namun dia tetap bersabar tinggal di dalamnya saja karena dia merasa tetap akan selamat, maka Allah bakal mencatat untuknya seperti pahalanya orang yang mati secara syahid”.

Hadis tersebut menjadi sebuah penghibur hati bahwa sepelik apapun situasi, maka kita kembalikan jadi Rahmat Allah SWT. Manusia berada pada titik mengambil hikmah pada semua yang terjadi. Sebagai mengikuti, hikmah lebih banyak meluangkan masa bersama keluarga untuk mendidik budak karena pangkal bangunan modal sosial adalah dari didikan keluarga.

Mengenai ikhtiar doa yang dilakukan untuk melewati sebuah pandemi, hadis Rasulullah juga menjelaskan doa yang disampaikan Rasulullah pada saudara Anas tentang doa meminta kesembuhan.

Pada hadis nomor 5451 Imam Bukhari, dijelaskan ciri tersebut: “Allahumma robbannaasi mudlhibal ba’sisyfi anta asyaafii lama syaafiya illaa anta syifaa’an lama yughoodiru saqomaa”, yang artinya, Ya Allah Tuhannya manusia, Dzat yang menghilangkan kesengsaraan, sembuhkan lah. Engkau-lah yang bisa menyembuhkan. Tidak ada yang pengaruh menyembuhkan selain Engkau kesembuhan yang tidak lagi meninggalkan sakit.

Doa dan ikhtiar tentunya harus kita yakini sebagai kausa utama melawan Covid 19. Cara menjaga kebersihan diri dan dunia dengan doa di dalamnya, tetap jauh lebih indah daripada kacau secara berlebihan terhadap potensi penyebaran Covid 19. Bagaimanapun situasi kaum, membentuk kehidupan sosial dengan menggembala solidaritas sesama dan bergotong royong melawan Covid-19, sejatinya itulah individualitas khas bangsa Indonesia. (*)

***

*) Penulis ialah Lia Istifhama, Ketua III STAI Taruna Surabaya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

***

**) Kopi TIMES atau rubik opini pada TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4. 000 leter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Menjepret diri dan nomor telepon dengan bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

**) Sidang pengarang berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.