Covid-19 dan Gejala Matinya Kepakaran

TIMESINDONESIA, RENGSA – Corona Virus Disease (Covid-19) kini telah bertransformasi menjadi pandemi. Setelah diumumkan dua korban pertama di Indonesia pada bulan Maret, kini virus tersebut telah menghantui kita selama hampir dua bulan hingga belum diketahui pasti.

Terlepas sebab berbagai permodelan yang dibuat sebab para ahli dalam memprediksi teks virus ini akan angkat berleha-leha dari Indonesia, yang jelas kita tetap masih harus terus mencari jalan melawan virus ini.

Hadirnya Covid-19 telah cukup bisa membuat dunia kesehatan kita mencacau kabut. Namun yang seringkali terlewat, Covid-19 telah membuat kita seluruh menunjukkan jati diri. Berbagai karakter dari masyarakat kita betul-betul menyembul karena pandemi ini.

Kita berangkat dari munculnya indigo yang dengan fasih membaca bervariasi hal mulai dari realitas baik masyarakat terkait Covid-19 hingga teks virus ini akan berakhir. Tanda kedua adalah realitas dimana kurang masyarakat menolak berbagai imbauan sebab pakar kesehatan untuk mengurangi denyut ibadah yang dilakukan secara berkerumun dan justru berdalih bahwa kasus hidup dan mati adalah perkara Tuhan.

Yang ke-3 adalah tentang heboh munculnya prinsip konspirasi tentang Covid-19 yang lulus dipercaya oleh warganet, misalnya lupa satu video yang diunggah dalam Youtube dan berisi percakapan kira-kira influencer yang menyatakan klaim prinsip konspirasi seperti Covid-19 merupakan virus buatan dan vaksinasi utamanya Hepatitis B bertujuan untuk mendepopulasi bani adam di bumi.

Bermacam-macam fenomena tersebut sebenarnya mengisyaratkan kalau kita sedang menuju sebuah fakta yakni matinya kepakaran. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa umum kini justru tak lagi mempercayai berbagai anjuran yang dianjurkan sebab otoritas yang memilki keahlian. Di dalam hal ini adalah dokter & tenaga kesehatan yang menganjurkan untuk tidak berkerumun dan melaksanakan bermacam-macam aktivitas termasuk ibadah di rumah.

Selanjutnya banyak yang kini berlomba menjadi ahli pada luar bidangnya dengan tanpa memiliki landasan keilmuan terhadap bidang itu.

Merujuk pada konteks masyarakat tersebut, maka apa dengan dikatakan Tom Nichols sebagai matinya kepakaran dalam bukunya yang berjudul The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters benar-benar terjadi di Indonesia.

Nichols menyebutkan bahwa matinya kepakaran tidak hanya penolakan atas pengetahuan dengan ada. Hal ini pada umumnya ialah penolakan terhadap sains dan rasionalitas yang tidak memihak, yang ialah dasar dari peradaban modern. Ini adalah sebuah tanda bahwa dengan kronis kita skeptis terhadap otoritas dan memangsa takhayul. Berbagai isyarat tersebut menunjukkan bahwa kini kita tengah berada pada dunia yang berorientasi informasi di mana semua warga negara percaya diri sebagai ahli dalam segala hal.

Secara lebih spesifik mengenai teori konspirasi, Nichols menjelaskan bahwa teori konspirasi menjadi menarik untuk aliran narsisme yang kuat. Beradu panjang lebar dengan seorang mampu teori konspirasi tidak hanya tidak membuahkan hasil tetapi juga terkadang berbahaya. Hal ini adalah perlindungan utama melawan keahlian, karena tetap saja setiap ahli yang bersemuka dengan teori adalah dianggap periode dari konspirasi.

Oleh karena itu menjadi penting bagi kita seluruh untuk mempersuasi masyarakat agar kembali lagi melandaskan berbagai kebenaran pada realitas scientific. Dalam hal ini lah diperlukan komunikasi sains. Komunikasi ilmu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran keilmuan publik, pemahaman, literasi, dan budaya dengan membangun respons untuk mencapai minat pada sains, keyakinan buat membicarakannya, dan kesediaan untuk terkebat dengan sains.

Di hal ini, para ilmuwan atau dalam konteks ini adalah dokter dan tenaga kesehatan perlu buat memaksimalkan berbagai platform serta media yang ada dalam rangka memberikan edukasi kepada publik tentang pengetahuan-pengetahuan kesehatan. Model tersebut dapat menjadi jembatan penghubung yang menghubungkan sarjana dengan masyarakat agar masyarakat kembali melandaskan kebenaran kepada sains.

Salah satu yang cukup layak diberikan apresiasi adalah dokter sekaligus influencer yakni dr. Tirta yang secara cukup positif menyelenggarakan komunikasi sains dengan berbagai gambar yang diunggah di berbagai maklumat yang dimiliki. Upaya ini pas positif untuk membuat masyarakat balik teredukasi dalam hal akses fakta kesehatan utamanya tentang pandemi Covid-19.

***

*) Oleh: Muhammad Saiful Aziz, S. I. Kom., Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, PR Indonesia Rookie Stars 2018.

*) Karya Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia. co. id

*) Kopi TIMES ataupun rubrik opini di TIMES Nusantara terbuka untuk umum. Panjang tulisan maksimal 4. 000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan kejadian hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Tulisan dikirim ke alamat e-mail: [email protected] co. id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.